Rabu, 10 Oktober 2012

Sekilas tentang Indonesia Timur: Ternate


Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Terdiri dari 33 provinsi dan dua di antaranya adalah daerah istimewa, Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang mengesankan. Dari ratusan budaya di Indonesia, terdapat salah satu budaya di Indonesia bagian timur dari kesultanan Ternate Maluku Utara.

Ternate merupakan sebuah kota yang bertempat di Pulau ternate provinsi Maluku Utara. Tempat yang dulunya adalah kesultanan yang besar di Nusantara ini, kini merupakan suatu kota yang padat yang terdapat Gunung Gamalama yang merupakan gunung api yang masih aktif di tengahnya. Ternate pernah menjadi ibukota provinsi sebelum berpindah ke kota Sofifi, namun gedung-gedung administrasi dan pemerintahannya masih berdiri di sana.

Untuk menuju ke Ternate bisa melalui jalur laut atau jalur udara. Untuk jalur lautnya bisa ditempuh dengan kapal feri atau dengan menggunakan speed boat dengan pelabuhannya dinamakan pelabuhan Bastiong, sedangkan untuk perjalanan udara dapat ditempuh dengan pesawat komersil yang akan mendarat di bandara Babulloh.

Saat disana mungkin hal yang akan dituju pertama kali adalah penginapan. Disana terdapat beberapa hotel dan penginapan yang terdapat di Tanah tinggi. Harganya bervariasi tergantung fasilitas yang ditawarkan hotel di sana.

Selesai beristirahat maka waktunya untuk berwisata kuliner. Ternate memiliki kekayaan kuliner yang beraneka ragam. Terdapat rumah makan yang menghidangkan masakan khas Ternate dan menyuguhkan pemandangan alam yang indah dari atas bukit, terdapat juga warung-warung makan yang beroperasi di malam hari yang terletak di swearing. Mereka menyuguhkan papeda, ikan woku dan colo-colo, serta makanan khas ternate lain yang dijamin mengandung banyak rempah-rempah.

Setelah puas berwisata kuliner, waktunya untuk  berjalan-jalan mengelilingi pulau Ternate. Di Ternate terdapat kerajaan yang masih terawat secara baik di tengah kota, orang-orang menyebutnya kadaton. Kadaton dipimpin oleh seorang sultan dan tentu saja memiliki perangkat-perangkat kerajaan yang setia. Bukan Indonesia namanya kalau tidak ada yang berbau mistis, maka kadaton pun juga memiliki legenda yang masih dipercaya oleh masyarakat di sana, yaitu mahkota kerajaannya memiliki rambut yang terus tumbuh walaupun dipotong. Legenda tersebut memiliki daa tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung ke sana.

Beberapa kilometer dari kadaton terdapat danau yang disebut danau Tolire. Alkisah mengatakan bahwa pada zaman dahulu terdapat sebuah desa. Penduduk desa tersebut sedang berpesta dan bermabuk-mabukan dan menghilangkan kesadaran kepala desa. Tanpa sadar karena dilanda mabuk, kepala desa tersebut memperawani anak perempuannya sendiri, maka Tuhan pun marah dan desa itu ditenggelamkan dan sekarang menjadi danau tolire Besar dan danau Tolire kecil. Tidak ada yang tahu pasti tentang kebenaran cerita turun-temurun itu, namun jika pengunjung melemparkan batu ke arah danau maka batunya akan kembali ke arah pelemparnya.

Tempat wisata lain yang terdapat di Ternate adalah batu angus dan benteng peninggalan belanda. Pengunjung juga dapat menikmati wisata rohani di sana. Banyak masjid-masjid yang berdiri di sepanjang jalan Ternate dan masjid yang paling besar adalah masjid Al-Munawar. Untuk pengunjung yang beragama Islam, maka kurang pas kiranya jika belum berkunjung ke masjid itu dan beribadah di sana.
 Setelah puas berjalan-jalan, waktunya untuk belanja oleh-oleh khas Ternate. Disana terdapat Mall di daerah Swearing yang menyediakan keperluan sehari-hari, terdapat juga pusat oleh-oleh besi putih yang menjadi ciri khas Ternate. Jika wisatawan menginginkan oleh-oleh jajanan disana, terdapat toko di dekat pelabuhan Ahmad Yani.

Ternate merupakan pulau yang tidak terlalu luas dan perjalanan keliling pulau dapat diselesaikan dalam waktu satu hari, namun dibalik itu terdapat kekayaan budaya sebagai simbol dari kejayaan kesultanan Ternate masa lampau. Kekayaan budaya itulah yang menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang harus tetap dilestarikan sampai anak cucu kita.

1 komentar: